Skip to main content

Sekolah untuk Giska

Bulan Januari Tahun 2016. Tinggal di Pakusarakan. Giska Usia 5 tahun 8 bulan, Gia Usia 2 tahun dan Bayu 8 bulan.

Karena Giska udah minta sekolah, akhirnya saya memilih sekolah yang waktunya ga full. Namanya Bimba AIUEO, bukan sekolah mungkin ya, tapi bimbingan belajar. Alasannya memilih masuk Bimba : karena waktu sekolahnya hanya 1 minggu 3 kali, Jam masuknya hanya 1-2 jam, kepala sekolahnya dan pengajarnya saudara sendiri (bibi saya). Jika sewaktu-waktu harus bawa adik-adiknya Giska, ga terlalu segan dan bisa mampir ke rumah yayang (nenek) nya anak-anak. Dan yang paling penting, saya tau metode belajar yang digunakan oleh bibi saya, tidak pressure anak-anak. Sangat memperhatikan mood dan psikologis anak.

Selama di Bimba, Giska lumayan enjoy. Tapi seringnnya sih moody, hehe. Karena mungikin masih masanya eksplore dan main-main aja. Jadinya tulisan di rapot Bimbanya tentang menumbuhkan minat bacanya, sabar ya mama, tetap semangat ya Giska. Gitu aja terus tiap bulan, hehe. Sampai pada akhirnya kita harus berhenti Bimba karena mau pindah rumah ke Depok.
Giska sekolah di bimba selama 1 tahun. Dari Januari 2016 - Desember 2016.
Selama 2 bulan terakhir sebelum lepas dari Bimba, Giska ikut trial KUMON. Kenapa KUMON? Karena Giska ada ketertarikan ke bidang matematika. Lalu ayahnya ingin Giska ikut KUMON, alasannya agar logikanya terasah dan lebih terarah. Akhirnya Giska ikut trial selama 2 mingggu pertemuan, dan ternyata anaknya mau lanjut kursus. Selama KUMON anaknya enjoy sekali, tiap dapat PR selalu bisa mengerjakan tanpa masalah berarti. Walaupun sebenarya saya agak ga setuju dengan PR ini, khawatir anaknya merasa terbebani. Soalnya kan usianya masih 5 tahun, belum waktunya lah di kasih beban akademis semacam PR matematika begitu. Kasian aja liatnya. Tapi selama anaknya enjoy, oke lah..Ga masalah..Kita liat aja, anaknya mampu bertahan berapa lama di KUMON. Hahahaha. *EvilSmirk *EmakJahat 👿

FYI : Giska masuk KUMON Nusa Hijau Cimahi, setiap hari senin dan jumat. Enak tempatnya. Staf pengajarnya ramah dan bisa komunikasi oke sama anak-anak. Plus-plusnya ada kantin dan dekat dengan taman bermain Nusa Hijau. Jadinya kalau adik-adiknya Giska nunggu, bisa sambil main-main atau jajan. Hehehe.

Sebelum pindah ke Depok, Saya ngurus-ngurus surat pindah Giska dari sekolah-sekolahnya. Ya dari Bimba bikin surat pindah, dari KUMON juga bikin surat pindah. Kenapa? Karena di depok, kami belum bisa memutuskan akan lanjut Bimba atau KUMON. Soalnya saya belum tau nanti kebiasaan dan mobilitas di Depok akan seprti apa. Apakah bisa lancar seperti di Pakusarakan? Atau akan diliputi macet setiap hari? Saya belum tau saat itu.

Setelah pindah ke Depok
Akhirnya kami memutuskan Giska untuk lanjut KUMON. Karena dilihat dari lokasi, KUMON lebih mendekati dari tempat tinggal. Kesan pertama Giska masuk KUMON di Depok, hal pertama yang di tanyakan “Bu, qo da ada tempat jajanan ya disini?”, hahahaha. Teteup ya, anak saya. Seneng banget nangkring di kantin. 😜

1 bulan pertama, lancar. Tapi motivasi belajarnya naik turun. Rupanya dia homesick, rumahnya masih berasa di Pakusarakan. Giska kangen dengan temen-temen mainnya di KUMON Nusa Hijau dan temen-temen di Pakusarakan. Kangen main sama Jani (sepupu), kangen sama amam, apap, om akbar. Selalu ituuu aja yang diceritain. Dan kondisi Giska seperti ini lumayan bikin ibu sutress.

Okeh, akhirnya ibu coba minta bantuan tutor di KUMON untuk memperhatikan kondisi psikis Giska. Beruntung di KUMON Pitara Village, tutornya amat sangat komunikatif. Namanya Mrs. Dame. Berbagai macam cara Mrs. Dame lakukan agar mood Giska bagus saat mengikuti KUMON. Muali dari memberi reward berupa stiker, sampai memberikan pembatas buku oleh-oleh Mrs. Dame dari Korea.

Di bulan ke 2, Giska benar-benar mood swing. PR KUMON udah ga mau lagi dia kerjain. Berbagai bujuk rayu Mrs. Dame sudah tidak mempan lagi. Beberapa kali ikut test ujian kenaikan level KUMON, Giska gagal. Karena tidak fokus, sehingga dalam mengerjakannya Giska lama sekali. Padahal sebenarnya Kemampuan matematika Giska udah lebih dari level di KUMON.

Akhirnya setelah diskusi dengan Mrs. Dame, Giska, Suami dan istikhoroh. Kami memutuskan, Giska tidak melanjutan les di KUMON lagi. Menurut saya, kurikulum di KUMON dibuat untuk anak-anak yang ingin mengikuti olimpiade matematika. Hehehe. Soalnya harus disiplin, amat sangat memperhatikan waktu pengerjaan, ga terlalu melihat dari sisi psikologis anak. Kalau untuk anak usia pra sekolah, menurut saya, KUMON tidak di rekomendasikan.
Total Giska ikut KUMON, hanya 5 bulan sajah.

Giska memasuki usia 6 tahun.
Ibunya mulai galau, karena ayahnya pengen Giska masuk SD. Liat Giskanya masih moody gitu, masa mau dilepas ke SD?. Memang sih kalau dilihat dari checklist kesiapan sekolah anak, Giska udah matang dan siap. Tapi dilihat dari sisi psikologisnya, sepertinya Giska masih perlu penguatan dari rumah dulu. Tau sendiri kan, pergaulan anak-anak SD sekarang ini seperti apa. Saya khawatir Giska akan lebih mudah terpengaruh, karena pondasi di rumahnya belum kuat. Sedangkan Giskanya, belum mau juga SD. Dia pengennya nanti usia 7 tahun.

Untuk menengahi keinginan Ayahnya, akhirnya saya mencoba untuk Homeschooling. Saya akhirnya memilihkan ikut program kelas online HSMN (Homeschooling Muslim Nusantara). Kenapa ikut program kelas Online HSMN? Pertama, Karena metode belajarnya sesuai Al-Qur’an dan sunnah, tidak begitu menggenjot akademiknya kalau untuk kelas 1-3 SD, karena belum mengejar materi untuk UN. Kedua, lebih mengedepankan pembelajaran berhikmah, setiap pertemuan belajarnya selalu ada hikmah-hikmah yang di dapat. Selain itu juga, anak akan mendapatkan Rapot, tetap akan ada UTS dan UAS untuk mengisi nilai-nilai rapotnya. Dan ini merupakan lembaga resmi dari Yayasan Generasi Juara. Jika sewaktu-waktu anak ingin pindah ke sekolah formal, bisa diuruskan proses pindahnya dan langsung melanjutkan kelasnya. Tidak mengulang lagi dari kelas 1.

FYI, saya ikut HSMN ini sudah 2 tahun. Jadi tau persis bagaimana metode pengajaran ala HSMN. Selain ikut HSMN, saya pun mendapatkan ilmu tentang homeschooling dari mengikuti webinar dari kelas inspirasi. Ga hanya modal nekat aja, tapi saya nya juga harus banyak belajar. Supaya tidak salah langkah dalam menentukan pilihan untuk anak-anak.

Sekarang, kami sedang menjalani Homeschooling. Dan mengikuti komunitas bermain dan belajar di Depok, namanya Kerlap. Semoga kedepannya bisa lancar ya, doakan kami. 💓


Comments

Popular posts from this blog

Pengalaman kerja, bikin usaha, hingga akhirnya jadi full di rumah

Dulu sebelum nikah pengennya sih kerja kantoran, ga mau ngajar sama sekali. Soalnya suara saya kecil, ga pinter merangkai kata-kata, ga pinter ngejalasin sesuatu ke orang-orang. Kalau modal tampil doang di depan sih pede-pede aja. :p
Setelah nikah, semua berubah. Saya nikah ketika masih PPL di SMALUCI (SMA Negeri 3 Cimahi). Awal-awal nikah, saya LDM-an sama suami. Suami penempatan PNS Guru pertamanya di SMK Negeri 1 Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Karena ini adalah SMK rintisan, jadi masih banyak sekali yang harus di bangun dari awal dan masih membutuhkan banyak pengajar. Sebelum saya lulus, suami udah bilang ke saya kalau sekolah tempat beliau ngajar membutuhkan guru IPA. Dan suami pun menginginkan saya ngehonor di sekolahnya tersebut. Alhasil, setelah sidang saya langsung diboyong sama suami ke Indralaya. Dengan alasan karena sekolah ini lagi butuh banget pengajar IPA.
Setelah beberapa bulan ngajar di Indralaya, saya merasakan juga kerja sebulan yang dibayar hanya 1 minggu. Ama…

Positive Vibes (Versi Saya)

Kepikiran bikin tulisan ini karena beberapa minggu yang lalu pas saya share tentang parenting di IG Story, adik ipar bilang, "Positive vibes banget sih teh". Terus saya googling deh, apa itu positive vibes.
Hasil Googling, Vibes itu seprti kata, perasaan atau tindakan yang bisa menular, seperti energi gitu. Positive Vibes artinya energi positif. Apapun yang positif-positif, termasuk positif hamil. Hehehe.
Gimana sih caranya supaya jadi positive vibes di media sosial. Kalau menurut versi saya, ada beberapa yang harus dipertimbangkan sebelum share sesuatu. Supaya yang di share itu yang baik-baik aja yang keluar.
Hal-hal yang biasa saya lakukan : 1. Menyiksa diri sendiri, hehe. Maksudnya kalau ada galau-galau apa lah. Dipikirin dulu sama diri sendiri sebelum di share ke media sosial. Untuk nahan supaya ga kesel-kesel kasar yang keluar, itu kan sakit ya. Bikin mood ga bagus, bikin pikiran ga karuan. Dan mungkin bisa bikin dosa tambah banyak kalau share galau-galau tanpa difilter dulu…